Langsung ke konten utama

Pengendalian Hama Serangga Tanpa Pestisida

Serangga, Hama Yang Paling Banyak Menyerang Tanaman

Sering anda mungkin menjumpai tanaman bolong-bolong atau keriting daunnya. Kadang calon buah dan bunga rontok sendiri. Biasanya sebagian besar penyakit di tanaman disebabkan oleh hama serangga.


Serangga menyerang mulai dari benih, persemaian, daun, bunga, dan buah. Dan dampak yang dihasilkan cukup merugikan bahkan dapat mengakibatkan kematian bagi tanaman. Maka dari itu obat - obatan pestisida biasanya lebih berfokus pada insektisida.

Penggunaan Pestisida dalam Jangka Waktu Panjang Tidak Sehat

Tetapi penggunaan insektisida dalam jangka waktu yang lama tidak menyehatkan bai kita. Karena tanaman yang disemprot pestisida kalau kita makan racun pestisidanya masih ada yang tersisa.

Pengendalian Hama Tanpa Pestisida

Pengendalian hama tidak harus selalu menggunakan pestisida. Pengendalian hama dapat dilakukan secara fisik dan mekanik tanpa melibatkan racun-racun pestisida. Pengendalian hama ini memanfaatkan perangkap untuk membunuh, mengusir, atau menjebak hama. Dengan begitu hasil tanaman yang kita makan lebih terjamin kesehatannya.

Pengendalian hama tanpa pestisida memanfaatkan sifat-sifat serangga yang tertarik pada aroma, warna, dan cahaya tertentu. Caranya dengan merangsang agar serangga berkumpul dan hinggap terjebak pada perangkap. Pengendalian hama secara fisik dan mekanik sangat cocok untuk pencegahan sebelum terjadi ledakan hama.

Faktor - faktor yang perlu diperhatikan dalam pembuatan dan penggunaan perangkap adalah:

  • Ukuran Serangga
  • Jenis Serangga

  • Tanaman yang Dibudidaya

  • Siklus Kehidupannya
  • Makanan dan Aroma Kesukaannya
  • Warna Kesukaannya
  • Kekuatan Hama Jika Terkena Jeratan Perangkap
  • Cara Berjalan Atau Terbangnya
  • Ketersediaan Bahan

Dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut, kita adapat membuat perangkap lebih efektif dan lebih terarah sesuai dengan kebutuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa Pekatan A dan B dalam AB Mix Dipisah?

Pupuk A B Mix Pupuk yang paling populer digunakan untuk berhidroponik adalah konsep pupuk AB mix. AB mix biasanya dijual dalam bentuk serbuk kemudian dibuatkan pekatan 5 liter A dan 5 liter B. Ada juga yang menjual dalam bentuk pekatan siap pakai. Kemudian diencerkan dengan perbandingan 5 : 5 : 1 artinya 5 ml A dan B untuk 1 liter air. Kandungan A dan B Pada grup A biasanya terdapat Ca, K, dan N. Ca berbentuk ion Ca++, K berbentuk K+, dan N berbentuk NO3- (nitrat) dan NH4+ (amonium). Dan pada grup B biasanya terdapat Mg, S, dan P. Mg berbentuk ion Mg++, S berbentuk SO4--, dan P berbentuk H2PO4-, HPO4--, atau PO4---. Unsur mikro bisa diletakkan di pekatan A atau B, tetapi untuk unsur mikro berbentuk sulfat (Seperti FeSO4) harus diletakkan di grup B. Pekatan A dan B Tidak Boleh Dicampur Karena di grup A ada Ca++ dan di grup B ada SO4-- dan PO4---, mereka tidak boleh bertemu dalam keadaan pekat.  Jika Ca++ (kalsium) bertemu dengan SO4-- (sulfat), maka akan terbentuk CaSO...

Prinsip Pembuatan Hingga Suka Dukanya Hidroponik NFT

Sistem hidroponik NFT adalah sistem yang paling populer dibanding sistem hidroponik yang lain. Biasanya orang-orang mengasosiasikan NFT adalah hidroponik itu sendiri. Padahal sistem NFT adalah salah satu sistem hidroponik. NFT adalah  singkatan dari Nutrient Film Technique. Kata film dikarenakan tanaman tumbuh pada ailran tipis yang menyerupai lapisan film. Sistem ini paling mudah dijumpai ketika ingin belajar hidroponik. Karena sistem ini memiliki paling banyak kemudahan dibanding sistem yang lain. Tanaman yang dapat ditanam dengan sistem ini tidak terbatas sayuran daun saja, tanaman buah seperti tomat, cabai, hingga melon dapat ditanam dengan sistem hidroponik NFT. Selama akar tanaman serabut masih dapat untuk ditanam secara NFT. Tanaman yang berumbi tidak dapat di NFT kan karena daerah perakaran NFT terbatas. Selain itu sistem hidroponik NFT adalah sistem yang paling fleksibel dibanding sistem yang lain. Karena dapat diterapkan di berbagai lahan dengan ukuran apa saja...

Panduan Pembuatan dan Perawatan Hidroponik Drip (Irigasi Tetes) / Fertigasi

Sistem drip atau biasa disebut sistem irigasi tetes adalah salah satu sistem hidroponik yang menggunakan teknik yang menghemat air dan pupuk dengan meneteskan larutan secara perlahan langsung pada akar tanaman. Sistem drip pada hidroponik dapat juga disebut Fertigasi karena pengairan dan pemberian nutrisi dilakukan secara bersamaan Sistem drip / fertigasi adalah sistem hidroponik yang paling sering digunakan di dunia, mulai dari hobi hingga skala komersil. Karena biaya pembuatannya murah dan teknik pembuatannya mudah dibanding sistem hidroponik yang lain.  Seberapa luas dan ukuran tempat Anda, penempatan sistem ini sangat fleksibel dapat menyesuaikan luas dan ukuran tempat Anda. Biaya pengoperasiannya pun lebih murah, karena untuk pengirigasian listrik tidak perlu dinyalakan terus menerus. Anda dapat mengandalkan timer untuk mengatur frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi pada tanaman. Jadi tanaman lebih toleran jika di daerah Anda terjadi pemadaman listr...