Saturday, 18 March 2017

Ilmu Pemangkasan (Pruning) Secara Kasar pada Cabai

Jika menanam cabai, maka akan perlu dipelajari yang namanya teknik pruning alias pemangkasan

Pemangkasan ini tidak terbatas pada daun saja, tetapi juga pruning terhadap buah cabai

Pemangkasan bertujuan agar pertumbuhan tanaman lebih terarah sesuai harapan kita dan hasilnya maksimal

1. Pemangkasan Pucuk Tanaman Cabe Saat Umur 1 bulan HST

Untuk mendapatkan buah cabe yang berbuah lebat, diperlukan cabang yang banyak pula.

Untuk mendapatkan percabangan yang banyak, salah satu caranya adalah dengan melakukan pemangkasan pucuk tanaman cabe.

Pemangkasan dilakukan ketika umur tanaman cabe 1 bulan setelah tanam, sehingga sudah memiliki banyak daun antara 8 sampai 10 helai.

Pemangkasan Pucuk Cabe untuk merangsang tumbuhnya percabangan
 Untuk pemangkasan, usahakan menggunakan gunting khusus untuk pruning, kalau tidak ada, gunakan gunting yang paling tajam


Biasanya 2 minggu setelah pemangkasan, bakal cabang mulai tumbuh menjadi cabang pada setiap ketiak daun.

2. Pemangkasan Buah yang Dekat Ujung Saat awal mulai berbuah sekitar umur 5-6 minggu setelah tanam, buah-buah cabai yang dekat ujung sebaiknya dipangkas


Buah yang dekat pucuk, sangat menguras energi tanaman untuk tumbuh ke atas
Hal ini dikarenakan buah yang di dekat pucuk akan menguras energi dan hara ke arah buah sehingga tanaman terhambat untuk tumbuh ke atas dan memperbanyak daun dan cabang

3. Pemangkasan Cabang yang Tidak Produktif

Saat tanaman sudah mulai produktif, sekitar umur 8 minggu ke atas dan berbuah rutin, cabang-cabang tunas yang tidak ada bunga dan buahnya sebaiknya dipangkas
Buang cabang tunas
Cabang-cabang tunas yang di pangkas adalah cabang-cabang tunas di bawah cabang Y

Hal ini bertujuan agar pada fase ini tanaman supaya lebih fokus memproduksi buah daripada memproduksi cabang tunas

Jangan lupa, setelah pemangkasan, luka bekas pemangkasan semprot dengan fungisida seperti Previcure N dan bakterisida seperti Bactocyn atau larutan silika

Solusi Agar pH Larutan Nutrisi Tidak Mudah Swing

Seringkali dalam berkebun secara NFT, kita selalu menemui pH larutan nutrisi di tandon cepat sekali berubah

Padahal kita sudah memberi pH down sampai pH 5,5, tetapi beberapa saat kemudian pH naik kembali

Ada banyak teori mengapa pH larutan mudah swing, seperti suhu larutan nutrisi terlalu panas, penyerapan hara oleh tanaman yang telalu tinggi, dan sebagainya

Saya kali ini membahas cara pH larutan nutrisi melalui pendekatan kimia praktis

Saya menawarkan dua solusi untuk membuat larutan nutrisi pH nya stabil,

1. Penambahan MKP pada Pekatan B


Dalam peracikan pupuk AB Mix, ada salah satu bahan yang bersifat buffer (artinya dapat mempertahankan pH) yaitu MKP singkatan dari Mono Kalium Phospate

Untuk memperoleh sifat larutan nutrisi yang dapat mempertahankan pH, dibutuhkan 200 ppm MKP atau 200 gram per 1000 liter

Jika pupuk AB Mix Anda pH nya mudah swing, bisa jadi penggunaan MKP dalam peracikan pupuk tersebut tidak sampai 200 ppm.

Seringkali para peracik pupuk memberi MKP kurang dari 200 gram per 1000 liter

Solusinya jika Anda memakai AB Mix 1000 liter 5 liter pekatan, Anda bisa tambahkan MKP 50 gram pada stok B

Jika Anda memakai AB Mix 500 liter 2,5 liter pekatan, maka sesuai acuan perbandingan, tambahkan MKP 25 gram pada stok B


Salah satu merk MKP

MKP yang bisa Anda gunakan bisa pakai merk Meroke Kaliphos, MKP Paktani, dan MKP cap Kapal terbang

2. Menggunakan pH Down Asam Phosphat

Salah satu cara agar pH stabil adalah menggunakan Asam Phosphate. Biasanya pekebun lebih senang menggunakan Asam Nitrat karena Asam Nitrat asam yang sangat kuat dan dapat menurunkan pH sangat cepat dengan volume yang sedikit.

Tetapi setelah pH diturunkan dengan Asam Nitrat, beberapa jam kemudian pH akan naik lagi

Maka dari itu, cobalah untuk menggunakan Asam Phosphate untuk menurunkan pH. Cara kerja Asam Phosphate itu seperti Mono Kalium Phosphate, yaitu dapat bersifat buffer

Selain itu, Asam Phosphate lebih aman digunakan dibanding Asam Nitrat.

Asam Phosphate dapat dibeli di toko kimia dengan kada 85% w/w

Menangani Penyakit Daun Keriting Cabe

Biasanya saat menanam cabe, seringkali daun cabe mudah mengkerut atau keriting kemudian menguning.

Hal ini disebabkan oleh hama kutu kebul atau thrips

Thrips menyerang daun daun muda dengan cara menghisap cairan daun, sehingga membuat daun keriting.

Gejala serangan adalah bagian bawah daun menjadi kecoklatan. Daun tampak keriput, mengering, dan menggulung

Jadi jika daun-daun menggulung, keriting, mengering, bisa dimungkinkan disebabkan oleh thrips

Contoh Serangan Thrips










Daun Keriting kena Thrips
 Lalu cara pengendalian hama thrips atau kutu kebul ini bagaimana?

1. Alasi Lantai dengan Mulsa Plastik Perak


Mengalasi Lantai dengan Mulsa Perak
Mulsa plastik yang berwarna perak memiliki kemampuan memantulkan sekitar 33% cahaya matahari yang
menerpa  permukaannya.

Pantulan  cahaya ini merupakan rentang cahaya yang disukai oleh serangga, sehingga serangga akan  mengikuti arah pantulan dan meninggalkan pertanaman.

Akibatnya populasi serangga misalnya aphids dan thrips menjauh dari zona pertanaman

2. Pemasangan Perangkap Kertas Kuning dan Biru dengan Lem Ajaib

Perangkap warna kuning dan biru
Salah satu cara mengendalikan hama serangga adalah menggunakan perangkap warna. Perangkap ini memanfaatkan ketertarikan serangga pada warna terterntu.

Serangga menyukai warna-warna yang kontras. Cara serangga melihat suatu warna tidak seperti cara kita melihat.

Seperti halnya warna hijau daun bagi serangga itu adalah warna kuning dan warna biru secara terpisah, mengingat hijau adalah gabungan warna biru dan kuning, serangga yang tertarik dengan warna ini biasanya hama daun.

Hama daun lebih suka daun yang masih muda. Bagi mereka kertas warna kuning terlihat seperti kumpulan daun-daun muda.

Jangan lupa kertas perangkap warna ini diberi lem perekat yang biasa disebut lem ajaib

Perangkap warna ini dipasang sejak masa penanaman sebanyak 1 buah per 2 m2

3. Aplikasi Silika 

Dalam catatan Opa Yos Sutiyoso, beliau menulis penjelasan manfaat unsur silika terhadap tanaman pada Catatan Penting Hidroponik 99 : PEMANFAATAN UNSUR HARA SILIKA, UNTUK MELAWAN PENYAKIT CENDAWAN.

Ilustrasi cara kerja silika
Beliau menjabarkan bahwa,dinding sel yang sekarang sudah diperkuat oleh silikat, dapat meningkatkan toleransi sel terhadap penetrasi mycelia/benang tenunan cendawan patogen, yang akan merasuk ke dalam sel, menyedot sitoplasma isi sel, dan merusak jaringan serta organ tanaman.

Banyak jurnal-jurnal penelitian yang membuktikan dampak pemberian silika ke tanaman agar tidak mudah terserang penyakit
Sumber silika yang dapat dipakai adalah natrium silika atau biasa dikenal dengan nama dagang waterglass.Penggunaan waterglass sebagai sumber silika adalah dengan mengambil 10 ml waterglass kental, kemudian larutkan dalam air. Larutan ini bersifat sebagai pekatan silika.
Aplikasi ke tanaman adalah dengan mengambil 5 ml dari pekatan silika, kemudian ditambah dengan air 1 liter. 

Kemudian semprotkan ke seluruh bagian tanaman secara merata. Lakukan penyemprotan 2 x seminggu

4. Penyemprotan Insektisida


Penyemprotan insektisida adalah upaya terakhir dalam mengendalikan hama thrips.

Insektisida yang biasa dipakai adalah insektisida yang bahan aktifnya Spinosad  dan Abamektin


Insektisida Tracer 120 EC yang berbahan aktif Spinosad



Memperkuat Ketahanan Tanaman dari Hama dan Penyakit dengan Silika

Selain diberi pupuk yang optimal, tanaman perlu dilakukan pengendalian hama. Umumnya petani mengendalikan hama dengan pestisida kimia maupun organik.

Menggunakan pestisida kimia tentunya tidak bagus untuk kita makan hasil tanamannya. Pestisida organik pun cara kerja nya lambat dan hanya ditujukan untuk pencegahan saja.

Namun masih ada cara lain untuk mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang tanaman dengan menguatkan pertahanan dari dalam tanaman, seperti memperkuat dinding sel, pemberian pupuk yang tepat sasaran.

Cara pengendalian hama dan penyakit yang saya bahas kali ini adalah memperkuat pertahanan dinding sel tanaman sehingga sulit dirusak oleh hama, bakteri, virus, dan penyakit dengan silika.

Dalam catatan Opa Yos Sutiyoso, beliau menulis penjelasan manfaat unsur silika terhadap tanaman pada Catatan Penting Hidroponik 99 : PEMANFAATAN UNSUR HARA SILIKA, UNTUK MELAWAN PENYAKIT CENDAWAN.

Beliau menjabarkan bahwa,dinding sel yang sekarang sudah diperkuat oleh silikat, dapat meningkatkan toleransi sel terhadap penetrasi mycelia/benang tenunan cendawan patogen, yang akan merasuk ke dalam sel, menyedot sitoplasma isi sel, dan merusak jaringan serta organ tanaman.

Oleh karena itu silika sangat bermanfaat agar menjaga tanaman tetap dalam kondisi prima

Banyak jurnal-jurnal penelitian yang membuktikan dampak pemberian silika ke tanaman agar tidak mudah terserang penyakit

Sumber silika yang dapat dipakai adalah natrium silika atau biasa dikenal dengan nama dagang waterglass.
Water Glass

Waterglass dapat dibeli di toko kimia dengan harga 12.000 hingga 30.000 per kg

Penggunaan waterglass sebagai sumber silika adalah dengan mengambil 10 ml waterglass kental, kemudian larutkan dalam air. Larutan ini bersifat sebagai pekatan silika.
Aplikasi ke tanaman adalah dengan mengambil 5 ml dari pekatan silika, kemudian ditambah dengan air 1 liter. 

Kemudian semprotkan ke seluruh bagian tanaman secara merata. Lakukan penyemprotan 2 x seminggu
Perbandingan ilustrasi tanaman yang menggunakan silika (kanan) dan tidak menggunakan silika

Lalu jika ditanya, apakah tanaman yang disemprot silika berbahaya untuk dikonsumsi?

Jawabannya saya merujuk pada literatur "Hydroponics A Practical Guide for the Soilless Grower Second Edition" karya J. Benton Jones Jr.

Di literatur itu disebutkan bahwa silika merupukan unsur hara benefiicial yang artinya bermanfaat untuk tanaman.

Selain itu, pada tanaman yang di tanam di tanah, juga menyerap silika yang terkandung dalam tanah.

Maka dari itu, tanaman yang disemprot silika itu aman dikonsumsi karena penyemprotan tersebut juga termasuk pemupukan foliar mengingat silika unsur hara beneficial

Jika Anda masih ragu menggunakan silika, itu pun tidak apa apa, karena silika merupakan unsur beneficial. Digunakan lebih bagus, tidak digunakan pun tidak apa apa

Sunday, 13 September 2015

Pembuatan Sistem Aeroponik yang Efisien dan Hemat Daya

Aeroponik adalah teknik menanam di udara di mana akar terekspos langsung di udara. Tidak ada media yang menopang akar tanaman pada sistem aeroponik. Akar mendapat air dan nutrisi dari pengkabutan atau spraying pada ruang perakaran.

Aeroponik berbeda dari hidroponik pada umumnya. Aeroponik adalah evolusi dari hidroponik yang lebih efisien dan dapat mengatasi kekurangan dari sistem hidroponik. Sistem aeroponik menawarkan tanaman tumbuh lebih cepat serta penggunaan air dan pupuk lebih hemat dari sistem hidroponik.


Daftar Isi


Pada hidroponik, pemupukan dan penyiraman tanaman dilakukan dengan larutan nutrisi dengan media air atau substrat. Tetapi pada aeroponik, pemupukan dan penyiraman dilakukan dengan cara dikabutkan di ruang perakaran tanaman tanpa media apapun. Dengan teknik pengkabutan, penggunaan air dan pupuk lebih hemat daripada hidroponik biasanya dan nutrisi lebih mudah diserap akar.

Karena akar otomatis langsung kontak dengan udara, akar dengan mudah mengambil oksigen langsung dari udara. Sehingga akar tanaman lebih cepat menyerap hara dan air dari semprotan kabut nutrisi. Maka dari itu, tanaman yang ditumbuhkan dengan metode aeroponik dapat tumbuh lebih cepat dibanding hidroponik biasa karena aerasi yang ideal ini.

Perbandingan Semaian Selada Hidroponik dan Aeroponik, terlihat akar dari aeroponik lebih panjang dari hidroponik

Walaupun kedengarannya simpel, pembuatan instalasi aeroponik yang sebenarnya lebih kompleks jika dibandingkan sistem hidroponik pada umumnya.

Ada dua jenis sistem aeroponik yaitu aeroponik bertekanan rendah (Low Pressure Aeroponic, LPA) dan aeroponik bertekanan tinggi (High Pressure Aeroponic, HPA). Yang membedakan dari kedua sistem aeroponik ini adalah ukuran partikel penyemprotan air dan teknik penyemprotannya.

Aeroponik bertekanan rendah (LPA) adalah sistem yang biasanya paling banyak orang-orang bayangkan tentang aeroponik. Karena sistem aeroponik yang sering diperkenalkan pada pelatihan-pelatihan hidroponik dan di wisata-wisata agro hidroponik itu adalah sistem aeroponik bertekanan rendah (LPA)

Sistem Aeroponik Bertekanan Rendah yang biasa diperkenalkan di pelatihan-pelatihan hidroponik

Pembuatan sistem aeroponik bertekanan rendah (LPA) tidak membutuhkan biaya yang mahal dan sangat mudah dibuat. Yang dibutuhkan hanya sprinkle / sprayer dan pompa dengan debit yang tinggi. Dan cara kerjanya sederhana, dari tandon/reservoir, pompa menyemprotkan akar tanaman yang menggantung melalui sprinkle/sprayer. Kemudian akar menerima semprotan larutan nutrisi dan tetesannya kembali lagi ke reservoir/tandon

Tanaman dapat tumbuh sangat bagus dengan sistem aeroponik ini. Akan tetapi sistem aeroponik bertekanan rendah (LPA) sangat tidak efisien.

Semprotan yang dihasilkan pada sistem aeroponik bertekanan rendah (LPA) tidak bisa halus membentuk kabut karena pompa akuarium yang biasa digunakan tidak memiliki tekanan yang tinggi. Maka dari itu sistem ini disebut aeroponik bertekanan rendah (LPA). Tekanan yang rendah membuat sprinkle/sprayer cuma asal semprot saja, tidak dapat mengasilkan semprotan yang halus

Selain itu penggunaan energi pada sistem ini sangat tidak efisien. Karena satu pompa hanya mampu melayani beberapa tanaman saja, tentu hal ini akan sangat boros listrik. Sistem ini lebih cocok untuk instalasi peraga pengenalan aeroponik dan instalasi untuk hobi rumahan.

Sistem aeroponik yang lebih efisien adalah sistem aeroponik bertekanan tinggi (HPA). Sistem aeroponik jenis ini lah yang dikembangkan oleh NASA untuk penelitian menanam di luar angkasa. Sistem ini awalnya membutuhkan alat-alat yang mahal dan susah dicari untuk membuatnya.

Aeroponik yang sebenarnya seharusnya semprotannya membentuk kabut

Pada sekitar tahun 2010-an, aeroponik HPA sekarang dapat dibuat untuk skala rumahan hingga skala usaha dengan biaya pembuatan yang lebih terjangkau dan biaya operasional yang lebih murah. Akan tetapi untuk orang awam, agak sulit memahami prinsip kerja dari sitem aeroponik bertekanan tinggi (HPA). Sistem aeroponik tidak cocok untuk pekebun pemula.

Sistem ini membutuhkan air bertekanan tinggi sekitar 60-80 PSI. Dengan tekanan yang sangat tinggi, air dapat membentuk kabut yang halus saat disemprot melalui nozzle mist sprayer.

Semprotan kabut yang halus membuat nutrisi dan air lebih mudah diserap dan akar dapat mengambil oksigen dengan maksimal. Selain itu dengan tekanan tinggi jangkauan semprotan dapat lebih luas dan efektif dibanding dengan sistem aeroponik bertekanan rendah (LPA). Maka dari itu penggunaan air dan nutrisi lebih efisien pada sistem aeroponik ini (HPA).

Walaupun dengan tekanan tinggi, bukan berarti daya listrik yang dikonsumsi juga tinggi. Penyemprotan hanya berlangsung secara selang-seling menyemprot sekitar 2-3 detik dan berhenti sekitar 3-5 menit. Tiap mist spray dapat menghasilkan semprotan sekitar 1,5 ml/detik.

Pompa reverse osmosis dengan debit 0,5 liter/menit yang berdaya sekitar 30-50 watt dapat digunakan sistem aeroponik bertekanan tinggi. Dipadukan dengan tangki bertekanan, pompa dapat melayani penyemprotan ratusan tanaman dan pompa tidak perlu menyala terus-menerus sehingga lebih hemat daya listrik.

Teknik pembuatan dan perawatan sistem aeroponik bertekanan tinggi dan mengapa biaya operasional aeroponik lebih hemat akan lebih dibahas dalam artikel ini

Ringkasan
  • Biaya Pembuatan : Mahal
  • Tingkat Kesulitan Pembuatan : Sulit
  • Tingkat Kesulitan Perawatan : Sulit
  • Cocok untuk Tanaman : Semua tanaman, cocok untuk penyetekan tanaman
  • Kelebihan : Aerasi yang lebih baik daripada hidroponik biasa, jadi tanaman tumbuh lebih cepat, lebih hemat air dan nutrisi karena irigasi dikabutkan
  • Kekurangan : Butuh kedisiplinan tinggi, kesalahan pada sistem dapat menggagalkan tanaman dalam hitungan menit
  • Toleransi Listrik : Sangat tergantung listrik

Prinsip Cara Kerja Aeroponik Bertekanan Tinggi

Penyemprotan Akar

Pada sistem aeroponik HPA, akar disemprot oleh mist sprayer yang memiliki lubang keluaran sebesar maksimal 0,8 mm. Saat air disemprot dengan nozzle mist sprayer pada tekanan 60-80 PSI, air akan membentuk semprotan yang halus. Ukuran partikel air pada semprotan itu berukuran 30-50 mikron dan dengan debit 1,5 ml/detik pada semprotannya.

Air yang bertekanan tinggi akan menghasilkan semprotan yang halus membentuk kabut nutrisi

Hal ini dilakukan berdasarkan pada penelitian yang dilakukan oleh NASA, akar lebih mudah menyerap hara dan air pada ukuran 30-50 mikron dan kondisi penyemprotan ini tidak dapat dilakukan tanpa tekanan yang tinggi

Jika ukuran partikel semprotan air terlalu besar, oksigen dalam semprotan itu sedikit. Dan jika ukuran partikel semprotan terlalu halus (seperti kabut asap yang dihasilkan pengkabut ultrasonic), hanya rambut akar yang tumbuh sedangkan cabang-cabang akar tidak terbentuk.
 

Teknik Aeroponik Tekanan Tinggi (HPA)

Sistem aeroponik HPA termasuk sistem resirkulasi, artinya larutan nutrisi digunakan berulang. Perbedaan dari sistem resirkulasinya dari sistem hidroponik terletak pada sistem perpompaannya

Sirkulasi Aliran pada Aeroponik Bertekanan Tinggi (HPA)

Larutan nutrisi dari tandon/reservoir dipompa menuju pressure tank oleh pompa booster. Pompa booster ini dihubungkan dengan high pressure switch yang berfungsi sebagai saklar otomatis berdasarkan tekanan.

Dengan high pressure switch, pompa hanya menyala hingga tekanan dalam pressure tank mencapai 80 PSI.

Pressure tank ini berfungsi sebagai pengumpul tekanan yang dikeluarkan oleh pompa.

Selang keluaran pressure tank ini dipasang solenoid valve untuk mengatur aliran yang keluar dari pressure tank. Solenoid valve ini dihubungkan dengan cycle timer untuk mengatur frekuensi penyemprotan pada akar tanaman. Biasanya penyemprotan dilakukan 2-3 detik dan kemudian mati selama 3-5 menit.

Karena tekanan yang sangat tinggi dalam pressure tank, air akan mendesak keluar menuju nozzle mist sprayer saat solenoid valve dibuka. Karena sifat air yang menekan segala arah, tekanan air yang dialami pada semua mist sprayer semuanya sama dengan debit yang sama juga. Yaitu sekitar 1,5 ml/detik tiap nozzle mist sprayer.

Satu nozzle mist sprayer dapat melayani range area 40x40 cm hingga 60x60 cm, artinya satu mist sprayer dapat melayani sekitar 9-16 sayuran selada dewasa.

Penyemprotan yang dilakukan pressure tank berlangsung hingga tekanan dalam tangki turun mencapai 60 PSI. Saat tekanan dalam pressure tank turun mencapai 60 PSI, high pressure switch akan menyalakan pompa booster untuk mengisi kembali pressure tank hingga 80 PSI

Semprotan yang tidak sempat diserap akar, akan kembali lagi menuju tandon/reservoir. Dan siklus itu berlangsung terus menerus.

Karena debit penyemprotan tiap nozzle mist sprayer 1,5 ml/detik hanya berlangsung beberapa detik dan mati beberapa menit, hitungan keluaran debit semprotan dalam satu menit sangat kecil sekali, sekitar beberapa mililiter saja.

Misalnya penyemprotan dilakukan 2 detik nyala 5 menit mati, maka otomatis volume air yang dikeluarkan tiap nozzle mist sprayer hanya 2 x 1,5 / 5 ml/menit = 0,6 ml per menit. Jika pada sistem ada 40 mist sprayer, maka total debit keluaran semprotan hanya 40 x 0,6 = 24 ml/menit.

Artinya, laju pengurangan volume air pada pressure tank juga 24 ml/menit

Maka dari itu walau debit keluaran pompa booster kecil sekitar 0,5 - 1 liter per menit, pompa masih mampu melayani puluhan hingga ratusan nozzle mist sprayer dengan bantuan pressure tank. Karena kecepatan pompa tiap menitnya untuk mengisi pressure tank 0,5-1 liter per menit masih lebih besar dibanding kecepatan keluaran air pada semprotan tiap menitnya 24 ml / menit.

Artinya waktu yang dibutuhkan pompa untuk mengisi kembali pressure tank dari 60 PSI ke 80 PSI masih lebih cepat dibanding waktu yang dibutuhkan semprotan untuk membuat pressure tank turun dari 80 PSI ke 60 PSI

Hal ini dengan catatan asal debit keluaran total semua mist sprayer (jumlah nozzle mist sprayer x durasi detik penyemprotan x 1,5 ml/ durasi menit off) tidak melebihi debit pompa (0,5-1 liter/menit)

kembali ke atas
 

Komponen yang Diperlukan

  • Wadah tertutup untuk tempat tanaman : dapat dibuat dari kolam rakit apung atau terpal
  • Pompa Booster RO : untuk mengisi air dan tekanan pada perssure tank bisa didapatkan pada toko Reverse Osmosis
  • Tangki Bertekanan (Tangki Membran) : untuk pengumpul tekanan yang dihasilkan pompa RO dan menyemprot tanaman bisa didapatkan di toko Perlengkapan pompa rumahan atau toko RO
  • High Pressure Switch : mengatur kapan pompa menyala dan mati berdasarkan tekanan bisa didapatkan di toko Reverse Osmosis
  • Cycle Timer : untuk mengatur frekuensi penyemprotan bisa didapatkan di toko sarana alat-alat listrik
  • Selang RO 1/4" : jaringan irigasi bisa didapatkan di toko Reverse Osmosis
  • Nozzle Mist Sprayer (Mist Jet Sprinkle) : untuk pembuat kabut nutrisi dengan semprotan bisa didapatkan di toko perlengkapan greenhouse
  • Solenoid Valve 1/4" : mengatur frekuensi penyemprotan bisa didapatkan di toko Reverse Osmosis
  • Disc Filter 3/4" : sebagai filter agar sistem tidak tersumbat bida didapatkan di toko perlengkapan greenhouse
  • Wadah Reservoir : sebagai tempat larutan nutrisi
  • Adapter Selang 3/4" ke 1/4" : penghubung selang dengan disc filter bisa didapatkan di toko perlengkapan greenhouse
  • Meja Dudukan : tempat dudukan tanaman
kembali ke atas
 

Alat-alat yang Diperlukan

  • EC/TDS meter : Untuk mengontrol konsentrasi larutan nutrisi
  • pH meter : Untuk mengecek tingkat keasaman larutan
  • Pengukur kelembaban : untuk mengukur kelembaban pada ruang perakaran
kembali ke atas
 

Prinsip Pembuatan Sistem Aeroponik Bertekanan Tinggi (HPA)

1. Skema Instalasi

Berikut adalah gambar susunan alat-alat pada sistem aeroponik tekanan tinggi (HPA)

Skema Instalasi Aeroponik Bertekanan Tinggi


2. Pembuatan Wadah Tertutup untuk Tanaman

Pembuatan wadah untuk tanaman dapat meniru kolam untuk rakit apung atau grow tray untuk Ebb Flow. Dapat dibuat dengan papan grc yang dilapisi terpal, kemudian penutupnya dapat menggunakan sterofoam yang tebal. Ketinggian wadah berkisar 30-50 cm.

3. Jaringan Irigasi, Filter, dan Penyemprotan

Pemasangan jaringan selang dibuat membentuk loop. Tujuannya agar tekanan tiap titik sama besar.

Nozzle mist spray yang digunakan harus benar-benar untuk pengkabutan dengan ukuran lubang maksimal 0,8 mm. Nozzle mist spray ini dapat Anda dapatkan di toko sarana irigasi atau perlengkapan greenhouse.

Contoh Mist Jet merk Antelco, tandanya jet berwarna kuning dengan kepala hitam

Pastikan nozzle mini sprinkle yang Anda beli adalah jenis untuk membuat kabut / mist.

Setahu saya toko yang menyediakan mist spray ini di www.veluska.net dan www.tokorafif.com

Penyemprotan dapat dilakukan dari atas atau bawah wadah tanaman. Yang penting usahakan semua bagian akar tanaman dapat terkena semprotan.

Penyemprotan sebaiknya dilakukan dari sisi samping atas atau bawah wadah agar range penyiraman atas bawah akar lebih maksimal. Spacing jarak antar nozzle mist sprayer 40-50 cm. Berikut adalah contoh pola jaringan irigasi dan penyemprotan pada sistem aeroponik.

Bagaimanapun bentuk sistem Anda, selalu gunakan pola loop agar semua titik mendapat tekanan yang sama

Disc filter dipasang di antara reservoir dan pompa booster

4. Pemasangan Solenoid Valve dan Cycle Timer

Solenoid valve dipasang pada saluran keluar pada pressure tank. Solenoid valve dihubungkan dengan cycle timer.

Cycle timer yang digunakan untuk aeroponik adalah cycle timer yang biasa digunakan pada lampu kuning flip-flop. Digital timer yang biasa digunakan untuk hidroponik tidak dapat digunakan pada aeroponik karena timer tidak didesain dalam settingan detik dan tidak dapat disetting untuk auto on off berulang-ulang.

Cycle Timer yang digunakan untuk Aeroponik. Untuk membuat mati hidup dengan durasi yang berbeda Anda perlu 2 timer ini yang dipasang seri

Untuk pemasangan dan perakitan cycle timer, Anda serahkan di orang yang mengerti perakitan alat-alat listrik. Salah satunya Anda dapat memesan langsung siap pakai dan berkonsultasi di toko peralatan listrik dan robotika Depoinovasi

Anda dapat mengunjungi dan kontak di www.depoinovasi.com

5. Pemilihan Pompa Booster RO

Pompa yang digunakan dalam aeroponik adalah pompa bertekanan tinggi dengan debit yang rendah. Pompa ini biasa digunakan untuk reverse osmosis

Pompa Reverse Osmosis, bertekanan tinggi dengan flow rate yang rendah

Agak sedikit banyak perhitungan di sini, tapi saya akan jelaskan aturan sederhananya saja. Pemilihan pompa booster yang penting memiliki tekanan kerja di atas 80-100 PSI, lebih tinggi lebih baik.

Untuk setiap pompa dengan kapasitas 0,4-0,5 liter/menit dapat melayani maksimal 4 meja berukuran 8 meter x 1,5 meter  @240 titik tanam atau setara dengan 960 titik untuk selada dewasa. Pompa dengan debit 1 liter/menit dapat melayani dua kali lipatnya. Sedangkan ukuran minimalnya tidak ada. Pemakaian listrik menyesuaikan dengan jumlah tanaman yang dilayani

Jadi walau instalasi Anda tidak berukuran maksimal, misal hanya 1x1 meter, pemakaian listrik Anda tidak sebesar 8 x 1,5 meter walau menggunakan pompa yang sama.

6. Memilih Pressure Tank

Pressure tank disini berfungsi untuk pengumpul tekanan agar pompa tidak mati hidup terlalu sering. Mengingat frekuensi penyiraman dilakukan dalam hitungan detik tentu dapat membuat pompa rusak dan boros listrik.

Tangki Bertekanan

Tangki ini sering disebut tangki bertekanan atau tangki membran. Kadang juga disebut tangki accumulator Tangki ini biasanya digunakan dalam instalasi reverse osmosis untuk mengumpulkan tekanan dan air dari pompa booster supaya air hasil reverse osmosis dapat langsung ready kita minum. Dan juga tangki ini digunakan untuk pengganti tangki gravitasi yang biasa dipasang di rumahan.

Sebenarnya tidak ada rasio ukuran baku untuk memilih pressure tank, yang penting spec tekanan kerjanya di atas tekanan kerja pompa.

Semakin kecil pressure tank artinya semakin singkat durasi istirahat pompa. Semakin besar semakin lama istirahat pompa, tapi agak eman kalau untuk instalasi kecil.

Tapi sebagai acuan kasar saja, tiap 50 m2 atau setara dengan 4 meja 8x1,5 menggunakan 1 buah pressure tank ukuran 12-50 liter

Untuk flow rate pompa hanya pengaruh cepat lambatnya pengisian. Tidak mempengaruhi kapasitas tekanan.

Pastikan pressure tank yang dipilih memiliki tekanan kerja di atas 100 PSI. Selalu pasang pressure release valve pada pressure tank untuk keamanan jika pressure switch mengalami gangguan

Jika pemasangan pompa dan pressure tank asal-asalan, instalasi Anda dapat menjadi bom karena tekanan yang tinggi. Sebaiknya setiap pompa dan pressure tank melayani tidak lebih 3-4 meja saja

7. Pemasangan High Pressure Switch

High pressure switch dipasang pada saluran pressure tank dan kabelnya dihubungkan dengan kabel sumbur daya pompa booster.  High pressure berfungsi untuk mengatur kapan pompa harus menyala dan mati berdasarkan range tekanan.

High pressure switch diset on pada tekanan 60 PSI dan off 80 PSI. Jadi pompa akan berhenti menyala saat tekanan pressure tank mencapai 80 PSI dan mulai menyala lagi saat tekanan pressure tank 60 PSI

Untuk pemasangan pompa booster, pressure tank, dan pressure switch sebaiknya Anda konsultasikan atau serahkan pada jasa pemasangan perakitan instalasi Reverse Osmosis

8. Ukuran Volume Reservoir

Tidak ada ukuran baku untuk reservoir, semakin besar semakin baik. Ukuran volume reservoir bisa Anda samakan dengan sistem resirkulasi seperti NFT, yaitu 1 liter untuk 3 tanaman.

kembali ke atas
 

Perawatan Sistem Aeroponik Bertekanan Tinggi (HPA)

1. Frekuensi Penyemprotan

Frekuensi penyemprotan disesuaikan dengan kondisi tanaman. Anda perlu bereksperimen sendiri untuk mendapat hasil yang terbaik dari sistem aeroponik Anda. Patokan awalnya Anda bisa gunakan 3 detik nyala dan 5 menit mati.

Selanjutnya sesuaikan dengan reaksi yang diberikan oleh tanaman. Intinya penyemprotan dilakukan untuk menjaga akar agar tidak kering. Tetapi jangan sampai terlalu basah, jangan sampai penyemprotan menghasilkan embun-embun pada akar.

Jangan sampai frekuensi penyemprotan menghasilkan embun, cukup basah saja

Jika penyemprotan menghasilkan embun, kurangi durasi penyemprotan. Perubahan frekuensi penyemprotan dilakukan secara bertahap. Lakukan perubahan frekuensi penyemprotan secara mingguan.

Tujuan dari penyemprotan yang singkat dan jagan sampai berembun ini untuk memacu pertumbuhan rambut-rambut akar. Rambut-rambut akar berfungsi untuk mengambil oksigen langsung dari udara, sehingga tanaman dapat tumbuh lebih cepat.

Intinya penyemprotan juga harus dapat menjaga kelembaban (Relative Humidity, RH) pada 60-70%

2. Pencegahan Kebuntuan dan Sterilisasi

Selalu rutin cek dan membersihkan disc filter seminggu sekali. Setiap akhir panen, sistem disterilisasi dengan menyirkulasikan sistem dengan bleach. Takaran menyesuaikan dengan takaran kemasan

Setelah sirkulasi dengan bleach, sistem disirkulasikan dengan air biasa supaya residu klorin dari bleach hilang.

3. Manajemen EC dan pH

Walau dalam aeroponik perubahan EC dan pH tidak mudah swing (berubah), sebaiknya setiap hari Anda perlu cek EC dan pH. Usahakan EC berada di 1,5-2,5 dan pH berada di 5,5-6,5.

4. Penggantian Nutrisi

Dalam aeroponik HPA pH dan EC larutan nutrisi lebih stabil. Maka dari itu penggantian nutrisi dilakukan saat larutan nutrisi di tandon / reservoir habis. Air di dalam pressure tank juga harus dikeluarkan semua.

5. Penempatan Pressure Tank, Pompa Booster, dan Reservoir

Jangan menaruh pressure tank, pompa booster, dan reservoir di tempat yang kontak langsung dengan sinar matahari. Tempatkan barang-barang tersebut di tempat yang teduh dan ternaungi

kembali ke atas

Variasi Sistem

1. Aeroponik Tekanan Tinggi

Aero NFT

Aero NFT

Sistem Aeroponik yang dikombinasikan dengan NFT

Aero A Frame

Aero A Frame

Sistem Aeroponik yang dapat menambah jumlah titik tanam per satuan luas. Kekurangan dari sistem ini sama seperti NFT A frame, yaitu penyinaran matahari tiap sisi tidak bisa sama.

2. Aeroponik Tekanan Rendah

Teknik Sprinkle 
Teknik Sprinkle Aeroponik

Aeroponik jenis ini adalah yang sering diperkenalkan saat pelatihan-pelatihan hidroponik

Rain Tower

Rain Tower

Aeroponik jenis ini memanfaatkan gravitasi untuk membuat tetesan-tetesan seperti hujan di dalam pipa. Akar tanaman tumbuh menggantung di dalam pipa dan dibasahi oleh tetesan-tetesan larutan  nutrisi yang dihasilkan dari atas pipa  

Dewey Mister
Aeroponik ini memanfaatkan aerator dan pipa venturi untuk membuat semprotan-semprotan air. Sistem ini cukup hemat daya karena 1 aerator 2 watt dapat melayani 2 dewey mister. Sistem ini lebih cocok untuk penyetekan atau tanaman sayuran daun karena jangkauan semprotan tiap dewey mister tidak luas

Dewey Mister

Dewey mister dapat dibuat dengan memanfaatkan plastik bolpoin yang dihubungkan dengan selang aerator seperti gambar di atas

kembali ke atas

Catatan

Dengan perawatan yang tepat dan disiplin, Aeroponik dapat menghasilkan tanaman yang lebih bagus dan biaya operasional yang lebih murah dibanding hidroponik biasa maupun konvensional.


Jika Anda memodifikasi sistem aeroponik, pastikan jangan sampai salah perhitungan. Berikut saya sediakan file kalkulator untuk manajemen dan cek error sistem aeroponik.

Sunday, 6 September 2015

Panduan Pembuatan dan Perawatan Hidroponik Drip (Irigasi Tetes) / Fertigasi

Sistem drip atau biasa disebut sistem irigasi tetes adalah salah satu sistem hidroponik yang menggunakan teknik yang menghemat air dan pupuk dengan meneteskan larutan secara perlahan langsung pada akar tanaman. Sistem drip pada hidroponik dapat juga disebut Fertigasi karena pengairan dan pemberian nutrisi dilakukan secara bersamaan


Sistem drip / fertigasi adalah sistem hidroponik yang paling sering digunakan di dunia, mulai dari hobi hingga skala komersil. Karena biaya pembuatannya murah dan teknik pembuatannya mudah dibanding sistem hidroponik yang lain. 

Seberapa luas dan ukuran tempat Anda, penempatan sistem ini sangat fleksibel dapat menyesuaikan luas dan ukuran tempat Anda.

Biaya pengoperasiannya pun lebih murah, karena untuk pengirigasian listrik tidak perlu dinyalakan terus menerus. Anda dapat mengandalkan timer untuk mengatur frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi pada tanaman. Jadi tanaman lebih toleran jika di daerah Anda terjadi pemadaman listrik.

Sistem ini lebih populer untuk menanam tanaman sayuran buah seperti tomat, cabai, melon, paprika, dan terong. Walaupun begitu sebenarnya sistem ini juga cocok diterapkan untuk menanam sayuran daun dan herbs, tetapi jarang ditemui kebun sayuran daun yang menggunakan sistem ini. Bahkan sayuran akar memungkinkan dibudidayakan dengan sistem ini.

Kebun skala komersial yang membudidayakan sistem drip fertigasi untuk sayuran buah cukup banyak ditemui, tetapi untuk sayuran daun setahu saya ada di Cibadak - Jawa Barat dan BPTP Jatim Karangploso - Malang.

Sistem drip ini berasal dari Israel yang diterapkan langsung ke tanah berpasir. Saat ini hampir semua tanaman pangan dapat ditanam dengan sukses dengan sistem drip, mulai dari sayuran daun hingga tanaman sebesar pisang.


Hidroponik sistem drip fertigasi dapat dengan mudah dibuat dengan banyak cara, mulai dari skala hobi rumahan hingga skala komersil. Selain itu sistem dapat dengan mudah dibongkar pasang dan diekspansi tanpa banyak merubah jaringan yang sudah ada

Sistem drip lebih cocok untuk orang yang sudah punya pengalaman berkebun hidroponik karena manajemen sistem drip memerlukan skill khusus dalam mengatur frekuensi dan volume irigasi pada tanaman

Sistem irigasi drip terbagi menjadi 2 versi, yaitu sistem resirkulasi dan sistem non resirkulasi. Sistem resirkulasi biasanya digunakan untuk pekebun skala hobi dan rumahan karena manajemen irigasinya mudah. Sedangkan sistem non resirkulasi biasanya digunakan pekebun skala besar dan komersil karena resiko gagalnya kecil

Ringkasan

  • Biaya : Murah
  • Tingkat Kesulitan Pembuatan : Mudah
  • Tingkat Kesulitan Perawatan : Menengah
  • Cocok untuk Tanaman : hampir semua tanaman dapat dibudidayakan dengan sistem ini
  • Kelebihan : hemat listrik, pengairan tidak seboros NFT dan Ebb Flow
  • Kekurangan : rawan buntu. Jika manajemen buruk, penggunaan pupuk boros pada sistem non resirkulasi
  • Toleransi listrik : butuh listrik tapi sangat toleran jika mati listrik

Prinsip Cara Kerja

Sistem Drip Resirkulasi

Sistem resirkulasi biasanya sering diterapkan oleh penghobi skala rumahan. Prinsip cara kerja dan perawatan hampir mirip dengan sistem NFT dan Ebb Flow yaitu sirkulasi penggunaan larutan nutrisi yang berulang. Hanya saja tiap selang fertigasi melayani 1-4 tanaman

Aliran pada Sistem Drip Resirkulasi

Karena ini sistem resirkulasi, Anda perlu mengatur nilai pH dan EC/TDS pada larutan nutrisi di tandon / reservoir karena pH dan EC/TDS pada sistem resirkulasi tidak akan stabil. Selain itu larutan nutrisi dalam tandon perlu dikuras dan diganti secara berkala seperti sistem NFT dan Ebb Flow.

Pekebun hobi rumahan senang memakai sistem drip resirkulasi karena tidak terlalu memusingkan manajemen frekuensi irigasi karena larutan hara yang kelebihan akan kembali ke tandon, yang penting media tidak kering dan tidak banjir.

Pekebun komersil jarang menggunakan drip resirkulasi karena biaya investasi yang berat dan ditambah resiko penularan penyakit karena penggunaan larutan nutrisi berulang

Sistem Drip Non-Resirkulasi

Sistem non-resirkulasi akan lebih dibahas dalam artikel ini. Sesuai namanya, larutan nutrisi yang dialirkan ke tanaman tidak digunakan kembali. Walau tidak digunakan kembali, larutan nutrisi yang diberikan ke tanaman sangat sedikit yang terbuang

Aliran pada Sistem Drip Non-Resirkulasi

Pekebun harus mengatur frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi ke tanaman secara pas sesuai kebutuhan tanaman. Manajemen pengaturan frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi dilakukan dengan menggunakan timer.

Prinsip dari sistem drip fertigasi adalah memberi air dan nutrisi langsung media daerah lokal perakaran tanaman. Tujuannya supaya tanaman lebih mudah langsung menyerap larutan nutrisi. Selain itu dengan sistem drip, volume air yang dibutuhkan untuk penyiraman tidak harus banyak sehingga media menjadi basah seperti Ebb Flow.

Media tidak harus dibasahi, inti sistem drip adalah irigasi yang pas untuk melembabkan media

Penggunaan air pada sistem drip lebih efisien dibanding system NFT atau Ebb Flow, karena luasan air tidak banyak terpapar ke udara luar. Sehingga penguapan air tidak sebanyak NFT atau Ebb Flow. Penyiraman pada sistem drip difokuskan untuk melembabkan media sekitar daerah perakaran saja

Pemberian irigasi diatur sedemikian rupa agar media tanam memiliki kelembaban 70%. Tandanya adalah saat media dipegang terasa basah tetapi air tidak menetes dan jika diremas gumpalan media akan retak merekah. Dengan media yang lembab sekitar 70%, akar dapat dengan mudah menyerap air dan hara dan aerasi tetep terjaga karena udara masih dapat bersirkulasi diantara ruang kosong antar media

Komponen yang Diperlukan


  • Pot Menanam : Untuk tempat tumbuh tanaman, bisa menggunakan polybag, pot, wadah, dll
  • Tandon Reservoir : Wadah untuk larutan nutrisi
  • Pompa : Untuk mengalirkan larutan nutrisi
  • Timer : Mengatur frekuensi dan volume pemberian irigasi
  • Selang Inlet 5-8 mm : saluran penghubung yang memberikan larutan nutrisi dari pipa langsung ke tanaman
  • Nipple : sebagai penghubung selang inlet dan pipa jarinan irigasi
  • Emitter Drip Stick : agar larutan nutrisi dari inlet dapat masuk menembus dengan mudah menuju akar tanaman tanpa harus merembes perlahan di media
  • Pipa PVC atau Selang PE Fleksibel : untuk membuat jaringan irigasi
  • Media Tanam : penopang tanaman, tempat untuk menanam
  • Disc Filter atau Screen Filter : sebagai filter agar jaringan tidak tersumbat

Selang PE, selang inlet 8mm, filter, nipple, dan semua perlengkapannya bisa didapatkan di toko penyedia kebutuhan fertigasi yang biasanya dijual online. Anda bisa mencari informasi toko penjual melalui grup Facebook, tokopedia, dan fjb kaskus.

Alat-alat yang diperlukan


  • Solder / Bor : untuk melubangi pipa irigasi
  • pH meter : untuk mengatur pH larutan nutrisi
  • EC/TDS meter : untuk mengetahui konsentrasi larutan nutrisi

Aturan Pembuatan Sistem Instalasi

1. Skema Sistem

Berikut adalah pola skema pemasangan alat-alat pada sistem drip yang umum digunakan

Sistem Non-resirkulasi

Skema Pemasangan Alat-Alat pada Sistem Drip Non-Resirkulasi

Sistem Resirkulasi

Skema Pemasangan Alat-Alat pada Sistem Drip Resirkulasi

Perbedaan dari jaringan sistem non-resirkulasi dan resirkulasi adalah adanya penampung balik yang menuju reservoir / tandon pada sistem resirkulasi. Selebihnya tidak jauh berbeda

2. Pemilihan Pompa

Sebenarnya agak sulit memilih pompa yang pas sesuai untuk sistem drip. Karena sistem drip lebih diprioritaskan tekanan pompa yang tentunya penghitungannya agak memusingkan bagi pekebun biasa.

Perhatikan Q max dalam kemasan pompa

Walau begitu, Anda dapat mengikuti aturan kasar ini, meski kadang tidak cocok saat diterapkan dalam skala yang lebih besar. Setiap meter persegi membutuhkan spec pompa dengan debit keluaran maksimal (Q max) 800 Liter / jam asalkan maksimal air naik setinggi tidak lebih dari 50-100 cm.

Jadi misal Anda membuat sistem drip seukuran 5 m2 dengan dudukan sekitar setinggi 50 cm, maka Anda memerlukan pompa dengan debit keluaran maksimal (Q max) 5 x 800 liter/jam = 4000 liter/jam

3. Teknik Distribusi Irigasi

Pola Jaringan
Supaya tiap titik dari dekat hingga yang jauh mendapat debit yang sama, Anda perlu membuat desain pola jaringan irigasi loop. Tujuannya agar tekanan titik yang jauh dari pompa hingga yang jauh tidak jauh berbeda. Contoh pola seperti gambar di bawah ini

Pola Jaringan untuk Sistem Drip Skala Rumahan
Jaringan Drip untuk Skala Besar


Pemasangan Filter
Filter dipasang tepat setelah saluran output pompa. Filter penting dipasang supaya larutan nutrisi yang dipompakan tidak membawa partikel-partikel yang dapat membuat buntu emitter drip. Ukuran filter harus disesuaikan dengan ukuran pipa distribusi.

Anda juga dapat menggunakan disc filter atau filter screen dengan ukuran 200-300 mesh sudah dirasa cukup untuk mencegah kebuntuan.

Ukuran Pipa Jaringan
Untuk skala rumahan yang per pompa melayani tidak lebih dari 10 m2, jaringan distribusi dapat menggunakan pipa ½” atau ¾” .

Untuk sistem drip yang lebih besar, biasanya jaringan pipa terbagi menjadi 2 jenis, yaitu saluran primer dan saluran lateral (sekunder). Untuk saluran primer, biasanya digunakan pipa ukuran 2" - 3”. Sedangkan saluran lateral (sekunder) digunakan pipa ukuran ½” atau ¾”

Jarak Selang Inlet dan Pemasangan Emitter
Untuk jarak antar selang inlet biasanya menyesuaikan jarak tanam dari tanaman yang ditanam. Pada tanaman sayuran daun, satu selang inlet melayani 4-5 tanaman. Sedangkan tanaman sayuran buah, satu selang inlet melayani 1-2 tanaman.

Jarak antar inlet selang mengikuti jarak tanam

Untuk selang inlet, jangan gunakan selang bening waterpass. Selang ini tidak bertahan lama jika sering terpapar sinar matahari. Selain itu sifat transparannya dapat memicu pertumbuhan alga pada selang yang membuat selang menjadi buntu.

Gunakan selang PE yang memang didesain untuk selang irigasi outdoor. Untuk selang inlet sistem drip fertigasi ini biasanya berukuran 5-8 mm.

Untuk jaga-jaga, sebaiknya Anda men-double selang inlet fertigasi pada masing-masing titik. Tujuannya bila Anda selang yang buntu, masih ada selang satunya yang dapat mengairi media.

Penancapan Emitter Stick Drip

Tancapkan emitter stick drip pada media pada dekat dengan batang tanaman. Supaya air dengan mudah menembus media langsung ke daerah perakaran tanaman tanpa harus merembes dari atas

4. Ukuran Tandon / Reservoir

Ukuran tandon yang digunakan setidaknya disesuaikan dengan volume penyiraman selama seminggu. Misal dalam sehari menghabiskan air nutrisi 10 liter, setidaknya Anda perlu menggunakan tandon yang berukuran 70-100 liter.

Tujuan penerapan tandon mingguan ini untuk mempermudah mengubah dosis dan rasio nutrisi yang juga biasanya diterapkan secara mingguan

Jangan lupa penempatan tendon harus diletakkan di tempat yang teduh jangan dijemur

5. Pemilihan Media

Ada banyak media yang dapat dipilih mulai dari pasir, sekam bakar, coco coir, perlite, hydroton.

Untuk sistem drip resirkulasi, sebaiknya pilih media yang berukuran besar seperti hydroton supaya media tidak banjir karena irigasi yang terus menerus dan partikel media tidak terbawa menuju tandon pada saluran balik

Untuk sistem drip non-resirkulasi, sebaiknya pilih media yang berukuran halus agar mampu menahan kelembaban air lebih lama. Sekam bakar dan coco coir maupun campurannya biasanya sering digunakan pekebun-pekebun drip non-resirkulasi.

6. Ukuran Wadah Tiap Jenis Tanaman

Walaupun tidak ada ukuran yang pasti, Anda perlu memperhatikan ukuran volume media tanam untuk tiap jenis tanaman. Jika Anda menanam sayuran buah seperti tomat, cabai, dsb di polybag, maka sebaiknya Anda menggunakan polybag yang berdiameter 30 cm dan volume media tanam 10 liter per tanaman.

Sedangkan untuk sayuran daun, gunakan polybag yang berdiameter 15 cm dan volume media tanam 2,5 liter per tanaman.

Tujuannya supaya akar memiliki ruang yang leluasa untuk bergerak dan tumbuh

7. Pembuatan Drainase

Usahakan bagian samping bawah polybag dilubangi untuk drainase. Jika Anda menggunakan slab grow bag, maka usahakan bagian kedua sisi samping bawah grow bag dibuat lubang selebar 6-8 cm dengan jarak antar lubang menyesuaikan letak emitter drip.

Perawatan

1. Penyiapan Media

Sebelum semaian tanaman dipindahkan pada sistem drip, media tanam apapun yang Anda gunakan harus dilembabkan terlebih dahulu. Media disiram dengan air nutrisi dengan EC 1 hingga air rembesan pada drainase mulai keluar.

Kemudian media ditiriskan selama 1 hari, baru semaian dapat dipindah tanam ke media sistem drip

2. Pengukuran Debit Aliran pada Emitter Drip

Anda perlu mengukur debit aliran yang dipancarkan tiap emitter selang drip dalam satu menit. Tujuannya supaya Anda tahu berapa lama pompa harus menyala saat irigasi untuk mencapai volume yang diinginkan.

Caranya Anda perlu mempersiapkan gelas ukur dan stopwatch. Catat air yang dikeluarkan dari emitter dalam satu menit. Misal dalam kasus ini Anda mendapat debit 100 ml per menit, data ini akan digunakan dalam penentuan frekuensi dan volume irigasi yang akan dijelaskan di bawah ini

3. Frekuensi dan Volume Irigasi

Untuk hal ini, agak susah memberikan aturan yang pasti, karena ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi. Frekuensi dan volume pemberian larutan nutrisi pada sistem drip harus disesuaikan dengan jenis tanaman, umur tanaman, jenis dan volume media tanam, dan cuaca

Intinya yang penting Anda harus dapat menjaga kelembaban media tanam stabil 70%.

Tetapi ada aturan kasar yang dapat Anda gunakan sebagai acuan dan selanjutnya Anda modifikasi menyesuaikan respon dari tanaman.

Per 10 liter media, Anda sirami dengan larutan nutrisi 2 kali sehari pada jam 8-9 pagi dan 15-16 sore. Per siraman sebanyak 250 ml dengan EC/TDS menyesuaikan jenis dan kebutuhan tanaman.

Jika debit aliran pada emitter drip Anda 100 ml / menit, maka saat waktunya menyiram pompa dinyalakan hanya selama (250/100 menit) 2,5 menit oleh timer.

Dan selanjutnya Anda juga perlu mengukur tampungan volume air rembesan yang keluar dari drainase polybag atau growbag (over drain). Usahakan volume air rembesan yang keluar 10-20% dari volume air nutrisi yang Anda berikan selama 24 jam. Tujuannya supaya memastikan apakah tanaman sudah mendapat cukup larutan nutrisi atau belum dan tidak terlalu banyak nutrisi yang terbuang

Grafik Debit Aliran 

Misal tanaman disirami sebanyak 250 ml 2x sehari, maka dalam sehari tanaman mendapat 500 ml. Jika dalam 24 jam, tampungan air rembesan (overdrain) mendapat di bawah 50 ml (10% dari 500ml) maka volume larutan nutrisi yang diberikan masih kurang. Dan jika tampungan overdrain mendapat di atas 100 ml (20% dari 500 ml) maka volume larutan nutrisi yang diberikan terlalu boros berlebihan.

Penampungan Overdrain
Selain itu tujual lain dari overdrain adalah untuk mendesak eksudat atau racun yang dihasilkan oleh akar tanaman keluar dari media tanam

Untuk frekuensi dan volume irigasi, selanjutnya Anda sesuaikan dengan respon pada tanaman. Jika media cepat kering, tambahkan frekuensi atau volume penyiraman. Jika media terlalu basah, kurangi frekuensi atau volume penyiraman atau bagi volume penyiraman dengan frekuensi yang lebih banyak.

Maksudnya misal, jika biasanya tanaman menyerap larutan nutrisi 500 ml per hari dengan penyiraman @250 ml 2x sehari, tetapi media tanam Anda terlalu porus sehingga 250 ml per siraman membuat media menjadi basah sekali. Maka solusinya penyiraman tetap 500 ml per hari, hanya saja dibagi menjadi 5x sehari sehingga per siraman menjadi 100 ml.

Berikut adalah contoh manajemen penyiraman tanaman cabai dengan penyiraman 6x sehari

USIA MINGGU
Aplikasi Nutrisi
Dosis per Siraman
Total Volume Siraman
1
900 ppm
100 ml
600 ml
2
1000 ppm
100 ml
600 ml
3
1100 ppm
100 ml
600 ml
4
1200 ppm
130 ml
780 ml
5
1200 ppm
150 ml
900 ml
6
1300 ppm
150 ml
900 ml
7
1300 ppm
150 ml
900 ml
8
1300 ppm
200 ml
1200 ml
9
1300 ppm
230 ml
1380 ml
10
1400 ppm
300 ml
1800 ml


Intinya yang penting media jangan sampai kering atau terlalu banjir. Hal di atas hanya sebagai acuan, tidak dapat menjadi patokan baku. Patokan baku berbeda-beda setiap kondisi.

Setiap pekebun akan menemukan sendiri frekuensi penyiraman terbaik untuk tanamannya seiring melihat respon dari tanamannya.

4. Manajemen TDS/EC

Untuk TDS/EC sama seperti sistem hidroponik pada umumnya, yaitu sesuaikan dengan umur dan jenis tanaman yang ditanam. Untuk sayuran daun EC 1,5-2 atau TDS 600-1200 ppm, untuk sayuran buah EC 2-3 atau TDS 1200-1800.

Dalam sistem drip non-resirkulasi, Anda perlu mengatur EC/TDS di daerah perakaran. Karena dalam pemberian larutan nutrisi (fertigasi) ke media, unsur hara tidak diserap seluruhnya oleh tanaman dan masih ada unsur hara yang tersisa di dalam media.

Dan jika dibiarkan terus menerus, unsur hara yang tersisa dalam media akan menumpuk dan mengacaukan rasio unsur hara pada larutan nutrisi

Aturan umum dalam pengelolaan tingkat garam terlarut (EC/TDS) dalam daerah perakaran adalah EC yang keluar dari over drain tidak boleh lebih dari 1 atau selisih lebih 500 ppm. Apabila perbedaan dari EC over drain dan EC larutan nutrisi lebih dari 1, maka dilakukan pencucian (flushing) dengan memberi penyiraman dengan larutan yang ber-EC rendah 1 atau dengan air biasa. Berikut adalah contoh manajemen EC untuk tanaman cabai.

Umur tanaman
EC
EC Inlet
EC Outlet
Fase Vegetatif 1 ( 1 – 6 MST)
1,6 – 1,7
1,3 – 1,8
Fase Vegetatif 2 (6 – 8 MST) fase mulai berbunga dan berbuah
1,8 – 1,9
2,0 – 2,1
Fase Generatif ( 8 < MST ) fase pematangan buah
2.0 – 2,1
2,1 – 2,2

Misal, Anda menerapkan EC pada tanaman 2,0 setelah 2 minggu sistem drip berjalan, nilai EC pada air rembesan (overdrain) 3,1. Maka besoknya Anda hanya menyiram tanaman dengan air biasa atau air dengan ber-EC 1 hinga EC pada air rembesan turun pada selisih yang jauh di bawah 1 dari EC seharusnya supaya tanaman dapat kembali disiram dengan larutan nutrisi dengan EC yang seharusnya

5. Filterisasi dan Pencegahan Buntu

Setiap seminggu sekali, filter disc atau filter screen yang Anda gunakan harus dibersihkan dari kerak-kerak. Tiap-tiap emitter juga rutin seminggu sekali dibersihkan agar tidak buntu

6. Sterilisasi Media dan Sistem

Media tanam seperti rockwool, coco coir, sekam bakar sebaiknya digunakan sekali pakai. Usahakan setiap selesai masa tanam, sistem jaringan drip dibersihkan dengan menggunakan bleach dengan takaran sesuai dengan kemasan kemudian dialirkan ke jaringan pipa-pipa dan selang pada sistem drip.

Tujuannya untuk mensterilkan sistem dan melarutkan partikel-partikel yang mengerak di dalam pipa atau selang.

Variasi Sistem

1. Teknik Irigasi

Pompa
Sistem Drip pada Umumnya

Ini adalah teknik irigasi yang umum digunakan yang dijelaskan di atas

Solenoid Valve
Sistem Drip dengan Solenoid Valve

Pompa hanya digunakan untuk mengisi tandon utama. Selanjutnya dari tandon utama, larutan nutrisi di alirkan ke jaringan sistem drip dengan memanfaatkan gravitasi. Pengaturan kapan larutan nutrisi mengalir diatur oleh solenoid valve yang dihubungkan dengan timer

2. Tempat Menanam

Polybag
Polybag

Grow bag
Pakchoy pada Grow Bag

Vertikal Grow Sack
Sistem Drip Vertikal dengan Grow Sack

Vertikal Interlocking Pot
Bisa dibuat dari pot sterofoam yang ditumpuk-tumpuk

Dutch / Bato Bucket
Sisterm Drip Resirkulasi Dutch Bucket
Dan masih banyak lagi variasi pada sistem drip. Anda dapat sesuaikan dengan bahan-bahan yang ada di sekitar Anda

Sedia Pupuk Hidroponik dan Fertigasi
AB Mix Plus Silika


Tersedia kemasan Sayuran Daun, Bunga, dan Buah

AB Mix + Silika untuk Sayuran Daun
AB Mix + Silika untuk Buah
AB Mix + Silika untuk Bunga


kemasan 1000 liter pekatan 5 liter Rp. 60.000
kemasan 300 liter pekatan 1,5 liter Rp. 25.000

info pembelian
https://www.tokopedia.com/agropatas
https://www.facebook.com/almiansyah

Ilmu Pemangkasan (Pruning) Secara Kasar pada Cabai

Jika menanam cabai, maka akan perlu dipelajari yang namanya teknik pruning alias pemangkasan Pemangkasan ini tidak terbatas pada daun saja...